Teuku Umar: Keputusan ke Warga, Pekerjaan Belum Jelas
Wali Kota Farhan menyerahkan bentuk Lapang Teuku Umar ke kesepakatan warga dan komunitas skate. Sampai Senin, 2 November 2026, kesepakatan itu belum dilaporkan, dan status pekerjaan di lapangan belum disebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyerahkan bentuk Lapang Teuku Umar, Kelurahan Lebakgede, Coblong, ke kesepakatan warga dan komunitas skate. Sampai Senin, 2 November 2026, kesepakatan itu belum dilaporkan.
Ini lanjutan dari catatan kami pada 30 Oktober 2026. Anggaran, luas, linimasa, dan riwayat lapangan ada di sana. Tulisan ini mencatat yang berubah.
Kami menyusunnya dari siaran pers yang dimuat media dan laporan media. Untuk tulisan ini kami tidak ke lokasi, dan belum menghubungi Pemkot, warga, komunitas, atau kontraktor.
Yang dikatakan Farhan
- Soal keputusan: “Teuku Umar itu harus berdasarkan kesepakatan warga.” (IDN Times, 2 November 2026)
- Soal kompromi: “Silakan berkompromi, menentukan mau dibuat apa.” (Radar Bandung, 2 November 2026)
- Soal peran Pemkot: menurut Radar Bandung, Pemkot menyiapkan perencanaan dan anggaran, sedangkan pembangunan mengikuti konsep yang disepakati warga.
- Soal penggusuran: “Tidak pernah ada niat ataupun rencana dari pemerintah untuk menggusur.” (IDN Times, 2 November 2026) FokusJabar mencatat ia menyebut narasi itu “fitnah”.
- Soal asal gagasan: ia menyebut fasilitas skateboard berawal dari aspirasi komunitas sejak 2016 (BandungOke, 2 November 2026).
- Soal sampah: kepada FokusJabar, ia menyebut fasilitas shelter pengolahan sampah ranting dan daun sebagai yang paling penting di lokasi itu.
Yang berbeda dari pekan lalu
| Soal | Pekan lalu | 2 November 2026 |
|---|---|---|
| Kesiapan | “Kami sudah menyiapkan anggaran dan pelaksana,” kata Farhan (Rabu, 28 Oktober, dimuat Inilahkoran) | Pemkot menyiapkan perencanaan dan anggaran setelah ada kesepakatan (Radar Bandung, FokusJabar) |
| Desain | Sudah final, kata Kabid Pertamanan DPKP Nana Kurniawan (Kamis, 29 Oktober, dimuat BandungBergerak) | Konsep akhir belum ditentukan (Radar Bandung) |
| Asal gagasan | Sam dari Tampra Youth Space: rencana ini tidak datang dari komunitas skateboard sepenuhnya (BandungBergerak) | Farhan: aspirasi komunitas sejak 2016 (BandungOke) |
Laporan 2 November tidak menjelaskan perbedaan ini.
Pelaksana proyek disebut PT PPB
Catatan kami pada 30 Oktober menulis nama pelaksana belum dipublikasikan. Deskjabar kini menyebut pelaksana proyek ini PT PPB. Nama lengkap perusahaannya belum kami temukan, dan perencananya masih belum disebut.
Nama itu muncul dalam laporan soal pagar. Menurut keterangan perusahaan yang dikutip Deskjabar:
- Pagar pembatas area proyek diduga dirusak pada malam 27 Oktober 2026, sekitar pukul 22.45–23.30 WIB.
- PT PPB, lewat perwakilannya Zagki Drajat, menyiapkan rekaman CCTV dan foto untuk laporan ke Polrestabes Bandung.
Yang kami baca adalah rencana melapor, bukan laporan yang sudah diterima polisi. Kami belum membaca keterangan kepolisian. Tidak ada pelaku yang disebut, dan kami tidak mengaitkan dugaan ini dengan warga atau komunitas mana pun.
Usulan yang masih berjalan
- Ega MP, skater profesional asal Bandung, kepada IDN Times (2 November 2026): “Lebih baik perbaiki saja yang ada dulu.” Ia mengusulkan Taman Maluku sebagai lokasi lain.
- Razaki, pengguna Skatepark Pasupati, kepada IDN Times soal kondisi di sana: “Lantainya bolong-bolong.”
Yang belum kami pastikan
- Status pekerjaan. Kompas melihat pekerjaan berjalan di balik pagar seng pada 27 Oktober. Laporan 2 November tidak menyebut pekerjaan berhenti atau berjalan.
- Siapa yang diajak berdialog. Versi siaran pers di Media Saksi, Potensinetwork, IDN Times, dan BandungOke menulis RW 18 dan RW 10. Radar Bandung dan FokusJabar menulis RW 09 dan RW 10. Versi siaran pers menyebut RW 09 dan RW 10 pada bagian sampah. Naskah asli siaran persnya belum kami baca.
- Tanggal pernyataan. BandungOke, Media Saksi, dan Potensinetwork mencatat Farhan meninjau Jalan Teuku Umar pada Minggu, 1 November 2026, dini hari. Radar Bandung dan FokusJabar menulis Senin, 2 November 2026.
- Siapa yang dikabarkan akan digusur. Laporan yang kami baca tidak menyebutnya.
- Dialognya. Siapa yang memimpin, kapan, dan di mana belum disebut.
- Target selesai. DPKP menyebut Desember 2026 pada 27 Oktober. Laporan 2 November tidak mengulang atau mengubahnya.
Sikap kami
Sikap kami sama dengan pekan lalu. Ruang publik dirancang bareng yang pakai.
Menurut kami, warga dan komunitas hanya bisa berkompromi kalau melihat yang dikompromikan. Gambar desain belum dipublikasikan. Membukanya sebelum dialog adalah langkah pertama yang bisa dilakukan Pemkot.
Kami akan menulis lagi kalau ada hasil dialog. Punya koreksi atau data tambahan? Kirim ke kami lewat DM @occstance.