Teuku Umar: Bukan Skate vs Bola
Rp3,1 miliar untuk 2.800 m² di Lapang Teuku Umar, Bandung. Apa yang sebenarnya dibangun, siapa yang ditanya, dan apa yang belum jelas.
Diperbarui Jumat, 30 Oktober 2026. Tambahan: data paket pengadaan dari SIRUP, keterangan DPKP bahwa rencana akan dievaluasi, suara warga dan skater dari laporan BandungBergerak, serta riwayat lapangan. Koreksi: paket ini tidak ada di daftar tender LPSE karena metodenya e-purchasing, bukan tender.
Ruang publik baru biasanya diukur dari dua angka: anggarannya dan tanggal peresmiannya. Kami lebih tertarik pada pertanyaan yang jarang ditanyakan: siapa yang ikut menggambar denahnya?
Di Lapang Teuku Umar, Kelurahan Lebakgede, Coblong, anggaran Rp3,1 miliar dan pelaksananya sudah disiapkan, dan pekerjaan sudah berjalan di balik pagar seng, sebelum komunitas yang tiap hari memakai lapang itu diajak bicara. Karena itu perdebatan di media sosial cepat berubah jadi anak skate lawan anak bola. Padahal, sejauh catatan publik, dua-duanya tidak ada di meja ketika proyek ini dirancang.
Kami menyusun catatannya dari pernyataan resmi, liputan media dan unggahan para pihak.
Yang dibangun, menurut DPKP
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung, Luthfi Firdaus, menjelaskan proyek ini pada Selasa, 27 Oktober 2026:
- Luas lahan 2.800 m², anggaran Rp3,1 miliar. Angka anggaran itu, katanya, mengacu pada informasi di LPSE. Target selesai Desember 2026.
- Yang dominan adalah area duduk dan plaza. “Jadi yang dominan tuh memang seating area, plasa, buat nanti kalau warga bikin acara,” kata Luthfi kepada Pikiran Rakyat. Sasarannya antara lain mahasiswa di kawasan pendidikan sekitar.
- Skatepark ±30% lahan (±840 m² dari 2.800 m²), ditambah area push bike yang luasnya tidak disebut.
- Lainnya: jogging track, mini soccer atau futsal (“kayak di Pasupati”), perbaikan musala, toilet, parkir dan drainase.
- Alasannya: menurut Luthfi, taman ini tidak tersentuh perbaikan selama 10–12 tahun dan sering tergenang saat hujan. “Pak Wali ingin ada beberapa wahana untuk menarik pengunjung.”
- Anggaran tahun ini terkena rasionalisasi, sehingga pekerjaan dilakukan “satu tahap” dan kelanjutannya “belum tahu”.
Di mana media berbeda. Kompas Bandung menulis porsi skatepark 39%, sementara judul PRFM News menyebut 35%. JPNN menyebut lapangan bola berukuran sekitar 45×90 meter. Ukuran itu sekitar 4.050 m², lebih luas dari seluruh lahan 2.800 m² versi DPKP. Kami memakai angka DPKP dan mencatat perbedaannya di sini.
Jejak anggaran di SIRUP
BandungBergerak menemukan tiga paket berkata kunci “Taman Bugar” di SIRUP, sistem rencana pengadaan pemerintah. Kami mengecek ketiganya langsung pada 30 Oktober 2026. Semuanya milik DPKP Kota Bandung, bersumber dari APBD 2026, dan memakai kode anggaran yang sama:
| Paket | Kode RUP | Pagu | Metode | Diumumkan |
|---|---|---|---|---|
| DED Pembangunan Taman Bugar | 67211333 | Rp92.688.885 | Pengadaan langsung | Jumat, 29 Mei 2026 |
| Konsultan Pengawasan Pembangunan Taman Bugar | 67587998 | Rp99.234.000 | Pengadaan langsung | Pemilihan penyedia dijadwalkan Agustus 2026 |
| Pembangunan Taman Bugar | 67810628 | Rp3.142.550.970 | E-purchasing | Minggu, 13 September 2026 |
Total ketiganya Rp3.334.473.855. DED adalah gambar dan dokumen perencanaan rinci. E-purchasing adalah pembelian lewat katalog elektronik, tanpa tender terbuka.
Yang perlu dicatat. SIRUP hanya menulis lokasi “Kota Bandung”, tidak menyebut Teuku Umar. Kami mengaitkannya dengan proyek ini karena dinas pemiliknya sama, pagunya cocok dengan angka Rp3,1 miliar, dan BandungBergerak menautkan hal yang sama. DPKP belum kami tanyai soal ini. SIRUP juga tidak menyebut pemenang paket. Uraian pekerjaannya hanya tertulis “di KAK”, dan KAK tidak dimuat di sana.
Linimasa
| Tanggal | Yang terjadi |
|---|---|
| Jan–Feb 2026 | DPKP menampung masukan dari ketua RW dan Karang Taruna: tempat senam, area duduk, “ada yang pengin bola”. |
| Jumat 29 Mei | Paket DED Rp92,7 juta diumumkan di SIRUP. |
| Minggu 13 Sep | Paket pembangunan Rp3,14 miliar diumumkan di SIRUP. Jadwal kontraknya September–Desember 2026. |
| ± Senin 19 Okt | Pekerjaan fisik dimulai (“sejak Senin pekan lalu”, kata Luthfi pada 27 Okt). Pagar seng dipasang. |
| Jumat 23 Okt | Spanduk penolakan muncul. DPKP kemudian menggelar rapat dengan Karang Taruna dan RW. |
| 26 Okt | Wali Kota Muhammad Farhan menyebut area di bawah jembatan Pasupati “gelap gulita” dan ingin menata ruang latihan skate yang “belum berstandar internasional tidak masalah”. |
| 27 Okt | DPKP membantah istilah alih fungsi: skatepark “hanya bagian dari wahana”. Kompas melihat pekerjaan tetap berjalan di balik pagar seng. |
| 28 Okt | Aliansi Teimer Melawan menggelar diskusi terbuka dan main bola bareng di lapang. |
| Kamis 29 Okt | Kabid Pertamanan DPKP, Nana Kurniawan, kepada BandungBergerak: desain sudah final, tapi “karena ada letupan-letupan penolakan jadi akan dievaluasi sama pimpinan”. Ia belum bersedia memberi keterangan lain. |
| 28–29 Okt | Farhan: “Sekarang ada penolakan, silakan komunitas berdiskusi. Kami sudah menyiapkan anggaran dan pelaksana.” Pembangunan, katanya, langsung jalan kalau dialog mencapai kesepakatan. |
Artinya, pekerjaan sudah dimulai sebelum dialog yang disebut akan menentukan kelanjutannya. Di SIRUP, paket DED sudah diumumkan hampir lima bulan sebelum spanduk penolakan muncul pada 23 Oktober.
Siapa yang ditanya
Menurut DPKP, masukan awal datang dari ketua RW dan Karang Taruna. DPKP menyebut ketua RW setuju. Penolakan, kata Luthfi, datang dari sekolah sepak bola (SSB) yang baru dibentuk. Ketua Karang Taruna RW 10, Pian, mengatakan anak-anak berlatih bola di sana “hampir setiap sore”.
Warga menceritakan versi lain kepada BandungBergerak. Novian, warga setempat, mengaku baru tahu saat material datang ketika ia sedang main bola, dan mempertanyakan klaim bahwa warga sudah diajak bicara. Tri, warga lain, tahu dari anaknya yang berlatih di sana. Andri (40) dan Zeno (28) menyebut lapangan itu dulu dibangun warga lewat kerja bakti, sampai tiang gawang dan jaringnya dibeli patungan. Sam dari Tampra Youth Space, yang juga aktif di komunitas Ameterdayum, mengatakan sudah mendengar rencana skatepark ini sekitar enam bulan sebelumnya, tapi belum pernah melihat site plan.
Tidak ada komunitas skate, BMX atau sepak bola yang disebut ikut merancang. Lapang bola yang ada diganti venue mini soccer. Wali Kota menyebut fasilitas pengganti untuk SSB bisa disiapkan di Tegalega atau Bandung Timur.
Dua scene, satu suara
Yang menolak bukan hanya anak bola.
- Aliansi Teimer Melawan: “Kami tidak menolak pembangunan. Kami menolak hilangnya ruang publik yang masih aktif digunakan masyarakat.”
- Motion Skatepark Co pada 29 Oktober 2026 (±6.800 likes) mengunggah ulang konsep revitalisasi Skatepark Pasupati buatan mereka; tahun pembuatan konsep tidak disebut: “Fix what’s already there!” Akun Dispora Kota Bandung membalas akan menyampaikan masukan itu ke pimpinan.
- Skatepark Pasupati dirawat komunitasnya sendiri. Pada 2025 kami melihat langsung anak-anak komunitas di Pasupati menambal lantai yang bolong dengan uang udunan seadanya, supaya tetap bisa main. Koran Mandala (18 Januari 2026) menulis hal yang sama: skatepark di kolong Pasupati bertahan dari swadaya penuh penggunanya, bukan anggaran pemerintah. “Saat ini pemerintah sudah lepas tangan. Perawatan harian, perbaikan kerusakan, semuanya kami kelola sendiri,” kata Sam Bega (23), skater Pasupati.
- Skater profesional Ega MP kepada IDN Times: senang kalau ada skatepark baru, tapi area skate yang ada belum berstandar nasional. Ia mengusulkan lokasi lain. Pengguna Pasupati menyebut lantainya “bolong-bolong”.
- Sam, Tampra Youth Space, kepada BandungBergerak pada 29 Oktober 2026: “Kami malah lebih menyarankan agar Pemkot merawat skatepark-skatepark yang sudah ada.” Menurutnya, jumlah skatepark di Bandung sudah cukup, dan anggaran sebaiknya dialihkan untuk rintangan, penerangan dan toilet. Ia juga menegaskan rencana ini tidak datang dari komunitas skateboard sepenuhnya.
- Boit, ibu dari seorang skater, kepada BandungBergerak: lokasi Teuku Umar berada di tengah permukiman, dan kebisingan skateboard perlu dipertimbangkan. Ia mendorong perbaikan skatepark yang ada, terutama di kolong Pasupati.
- Frans Ari Prasetyo, pakar tata kota ITB, seperti dikutip dari detikJabar: ruang terbuka hijau Bandung baru sekitar 9–11% dari ketentuan 30%. Pengerasan untuk skatepark bisa mengurangi daya serap air. Ia mengusulkan Pasupati, Monju atau Taman Pramuka, dan meminta rencana dicek terhadap aturan tata ruang.
Riwayat lapangan
- 1924–1935: menurut tulisan Atep Kurnia di BandungBergerak, kawasan Lebakgede masih bergaris putus-putus di peta Plan of Bandoeng 1924, tanda jalannya belum dibangun. Pembangunannya rampung antara 1924 dan 1927.
- Sejak 1990-an: BandungBergerak mencatat lapangan ini menjadi tempat main bola dan titik warga berkumpul. Selain SSB, ada latihan tinju dan perayaan 17 Agustus.
- 2013–2018: di masa Wali Kota Ridwan Kamil dan Wakil Wali Kota Oded M. Danial, tempat ini masuk program taman tematik sebagai Taman Fitnes.
- 2026: Koernia Purwihartuti dan Ade Wildan Fardiyana dari Politeknik Negeri Bandung, dalam Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas, seperti dikutip BandungBergerak, mencatat sampah di lapangan dan jalur jogging, akar pohon yang menonjol, dan alat fitness yang hilang. Mereka menyimpulkan kualitas aset taman ini perlu dikaji dan dikembangkan kembali.
Jadi taman ini memang butuh perbaikan. Yang dipersoalkan warga bukan perbaikannya, tapi siapa yang menentukan bentuknya.
Pertanyaan terbuka untuk Pemkot Bandung
Lima pertanyaan untuk Pemkot Bandung dan DPKP yang sampai 30 Oktober 2026 belum terjawab di catatan publik, masing-masing dengan fakta yang sudah tercatat:
- Siapa perencana dan pelaksananya? Namanya belum dipublikasikan. Paket pembangunan ini memakai e-purchasing (SIRUP, kode 67810628), sehingga tidak muncul di daftar tender LPSE, dan SIRUP tidak menyebut pemenangnya. BandungBergerak juga belum memperoleh informasi pemenang.
- Pernahkah mereka membangun skatepark atau trek BMX? Belum bisa dijawab selama nama perencana dan pelaksananya belum dibuka.
- Sudahkah desainnya dilihat dan dicoba skater? Adakah atlet atau tokoh skate yang dilibatkan? Dalam penjaringan masukan Januari–Februari 2026, DPKP menyebut ketua RW dan Karang Taruna. Tidak ada komunitas skate yang disebut (Pojoksatu, Pikiran Rakyat). Gambar desainnya juga belum dipublikasikan.
- Kenapa anggaran dan pelaksana sudah disiapkan sebelum dialog? “Kami sudah menyiapkan anggaran dan pelaksana,” kata Wali Kota Muhammad Farhan (Inilahkoran, 29 Okt). Saat itu pekerjaan sudah berjalan di balik pagar seng (Kompas, 27 Okt).
- Apa yang dievaluasi, oleh siapa, dan sampai kapan? DPKP menyebut rencana akan dievaluasi pimpinan (BandungBergerak, 30 Okt). Lingkup, tenggat dan status pekerjaan di lapangan selama evaluasi belum disampaikan.
Satu hal lagi yang belum kami temukan: status lahan ini di rencana detail tata ruang Kota Bandung.
Kami akan memperbarui catatan ini kalau ada informasi baru, dan kembali ke Teuku Umar saat taman ini dibuka.
Yang paling mahal bukan betonnya
Ramp, rel, rumput sintetis dan bangku taman bisa dibeli dengan anggaran. Yang tidak bisa dibeli adalah rasa memiliki dari orang-orang yang nanti memakainya.
Menurut kami, di situ risikonya. Skatepark yang dirancang tanpa skater berisiko jadi monumen, bukan tempat main. Lapangan yang diganti tanpa bertanya ke anak-anak yang latihan tiap sore berisiko jadi plaza yang sepi. Ini bukan tuduhan kepada siapa pun. Ini alasan kenapa lima pertanyaan di atas perlu dijawab sebelum betonnya kering.
Sikap kami
Ruang publik dirancang bareng yang pakai. Itu berlaku untuk anak bola, anak skate, warga yang senam pagi, dan siapa pun yang tiap hari memakai lapang itu.
Pertanyaan untuk kalian: Skatepark Pasupati dibenahi dulu? Kabari kami lewat komentar, DM atau email.